Kamis, 11 Februari 2021

Radjiman Wedyodiningrat - Dokter Pejuang Kemerdekaan

 

A.    Biodata

Nama                   : Radjiman Wedyodiningrat

Tempat lahir        : Yogyakarta

Tanggal lahir       : 21 April 1879

Tempat wafat       : Solo

Tanggal wafat      : 20 September 1952

Ayah                    : Ki Sutodrono

Pekerjaan             : dokter, pejuang, aktivis, politisi



B.     Pendidikan

            Radjiman Wedyodiningrat mengenyam pendidikan sebagai siswa Tweede Guropese Lagere School (ELS) di Yogyakarta pada tahun 18861893. Beliau tamat dari Sekolah Dokter Jawa di Batavia pada 22 Desember 1898. Kemudian, dilanjutkan sebagai mahasiswa di School Tot Opleiding Van lnlandsche Artsen (STOVIA), sambil menangani tugas sebagai Assisten Leraar di STOVIA. Pada tanggal 5 November 1904 beliau mendapat gelar Indische Arts.

            Dokter Radjiman melanjutkan belajar di Universitas Amsterdam-Nederland pada tahun 1910 dan mendapat gelar Guropees Art. Beliau juga sempat mempelajari ilmu kebidanan, penyakit wanita dan bedah, serta Gudascopie Urinoir di Berlin, Jerman. Tahun 19191920 belajar ilmu rontgenologie di Amsterdam Nederland. Kemudian, pada tahun 1931 memperdalam Gudascopie Urinoir di Paris, Perancis, dan mendapat 3 sertifikat dari Paris.

           

C.    Kedokteran

            Radjiman memulai karirnya sebagai seorang dokter yang bertugas di rumah sakit CBZ di Batavia. Dari Batavia, ia bertugas di berbagai daerah antara lain mengabdi sebagai dokter di Banyumas (1899), Purworejo (1899), dan Semarang (1900), Madiun (1901), Sragen (1905), dan Lawang (1905). Setelah bekerja di Lawang, Jawa Timur, pada tahun 1906 ia melanjutkan ke Sekolah Dokter Tinggi di Amsterdam sampai meraih gelar Arts (dokter) pada tahun 1910.

            Keberhasilan tersebut mendudukkannya sejajar dengan para dokter berkebangsaan Belanda. Sebagai dokter muda, banyak pengalaman yang diperoleh selama bertugas di berbagai daerah dan merasakan penderitaan rakyat di pedesaan. Dari sini ia mendapat inspirasi sebagai pejuang kemerdekaan. Dalam tugasnya ia sering melihat perlakuan kejam pihak penjajah terhadap penduduk pedesaan. Hal inilah yang memotivasi dirinya dan kawan-kawan untuk memperjuangkan nasib bangsanya, walaupun memerlukan waktu yang panjang untuk mewujudkannya.

            Setelah bertugas di berbagai pelosok daerah, Radjiman kemudian mengajukan permohonan untuk berhenti dari pegawai pemerintah pada 1905. Setelah itu, ia kemudian mengabdikan diri dan ilmunya di Keraton Surakarta sebagai dokter keraton. Berkat pengabdian dan jasanya yang besar dalam pelayanan kesehatan di Keraton Surakarta, Pakubuwono X kemudian memberikan suatu gelar kehormatan “Kanjeng Raden Tumenggung” (KRT) dengan nama Wedyodiningrat.

 

D.    Aktivis

            Radjiman pernah dipercaya untuk menjadi Ketua Budi Utomo ( 1914 – 1915) dan sejak berdirinya organisasi perjuangan tersebut dipercaya sebagai sesepuhnya di samping sebagai anggota Volksraad mewakili Budi Utomo. Oleh karena itu, telah banyak yang disumbangkan untuk perjuangan, dan dia telah ikut mewarnai Budi Utomo sebagai organisasi perjuangan yang berkepribadian Indonesia. Dia telah ikut bergelimang dalam suka dukanya pergerakan Budi Utomo sejak awal sampai terakhir. Dirinya telah bersatu padu dengan organisasi perjuangan ini, oleh karena itu dia terkenal sebagai tokoh tua Budi Utomo. Disamping tua dalam pengalaman organisasi juga tua dalam pendiriannya. Rajiman termasuk salah satu tokoh Budi Utomo yang dengan gigih mempertahankan prinsip pt:rjuangan Audi Utomo yang bersifat kebudayaan.

 

E.     BPUPKI dan Kemerdekaan

            Berkat pendiriannya yang tegas itulah kemudian dokter Rajiman diberi kepercayaan untuk memegang suatu jabatan yang terhormat sekali di depan nusa dan bangsanya, Ketua Badan Persiapan Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Bangsa Indonesia menghadapi pertanyaan besar dan mendasar pada saat itu: disusun berdasarkan filsafat apakah Negara Kesatuan Republik Indonesia itu? Pertanyaan ini memerlukan jawaban yang tepat karena menyangkut kehidupan bangsa Indonesia kelak di kemudian hari. Pertanyaan ini adalah pertanyaan falsafi, oleh karena itu hanya pemikir-pemikir besar yang ditantangnya.

            Maka dari itu, berkumpullah para pemikir terkemuka bangsa Indonesia pada saat itu dalam BPUPKI. Dari BPUPKI inilah lahir konsep dasar negara dan konsep U ndang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia yang kemudian disahkan oleh PPKI, satu hari setelah Proklamasi Kemerdekaan. Rajiman adalah seorang pemimpin dari para pemikir terkemuka tersebut dan bahkan, berkat kepemimpinannyalah BPUPKI dapat bersidang dengan lancar, singkat, dan sukses.

Walaupun sidang-sidang BPUPKI tetah dinyatakan setesai, tidak berarti tugas Rajiman setesai. Rajiman sebagai ketua masih harus mempertanggungjawabkan tugas dan kewajiban nya kepada Pemerintah Jepang. Bersamaan dengan itu, pada tanggat 7 Agustus 1945, Nanpee Gun (Pemerintahan Tentara Jepang untuk Seluruh Daerah Selatan) mengumumkan bahwa pada pertengahan bulan Agustus 1945 akan dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang akan memeriksa hasil-hasil kerja BPUPKI.

           Untuk mempersiapkan pembentukan panitia tersebut, pada tanggal 8 Agustus 1945, Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Dokter Rajiman diberangkatkan ke Saigon atas panggilan Jenderal 66 Besar Terauchi, Saiko Sisikan untuk Daerah Selatan. Pada tanggal 9 Agustus 1945, Jenderal Terauchi menetapkan:

(1) Soekarno diangkat sebagai Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (Dekuritzu Zyunbi Linkai), Moh. Hatta sebagai wakil ketua, dan Rajiman Wedyodiningrat sebagai anggota;

(2) PPKI boleh mulai bekerja pada tanggal 9 Agustus 1945;

(3) Cepat atau tidaknya pekerjaan Panitia diserahkan seluruhnya kepada Panitia.