A.
Biodata
Nama : Radjiman
Wedyodiningrat
Tempat lahir : Yogyakarta
Tanggal lahir : 21 April 1879
Tempat wafat : Solo
Tanggal wafat : 20 September 1952
Ayah : Ki Sutodrono
Pekerjaan : dokter,
pejuang, aktivis, politisi
B.
Pendidikan
Radjiman Wedyodiningrat mengenyam pendidikan sebagai siswa Tweede Guropese Lagere School
(ELS) di Yogyakarta pada tahun 1886 – 1893. Beliau
tamat dari Sekolah Dokter Jawa di Batavia pada 22 Desember 1898. Kemudian, dilanjutkan
sebagai mahasiswa di School Tot Opleiding Van lnlandsche Artsen (STOVIA),
sambil menangani tugas sebagai Assisten Leraar di STOVIA. Pada tanggal 5
November 1904 beliau mendapat gelar Indische Arts.
Dokter Radjiman melanjutkan belajar di Universitas
Amsterdam-Nederland pada tahun 1910 dan mendapat gelar Guropees Art. Beliau
juga sempat mempelajari ilmu kebidanan, penyakit wanita dan bedah,
serta Gudascopie Urinoir di Berlin, Jerman. Tahun 1919 – 1920
belajar ilmu rontgenologie di Amsterdam Nederland. Kemudian, pada
tahun 1931 memperdalam Gudascopie Urinoir di Paris,
Perancis, dan mendapat 3 sertifikat dari Paris.
C.
Kedokteran
Radjiman memulai karirnya sebagai seorang dokter yang bertugas di
rumah sakit CBZ di Batavia. Dari Batavia, ia bertugas di berbagai daerah antara
lain mengabdi sebagai dokter di Banyumas (1899), Purworejo (1899), dan Semarang
(1900), Madiun (1901), Sragen (1905), dan Lawang (1905). Setelah bekerja di
Lawang, Jawa Timur, pada tahun 1906 ia melanjutkan ke Sekolah Dokter Tinggi di
Amsterdam sampai meraih gelar Arts (dokter) pada tahun 1910.
Keberhasilan tersebut mendudukkannya
sejajar dengan para dokter berkebangsaan Belanda. Sebagai dokter muda, banyak
pengalaman yang diperoleh selama bertugas di berbagai daerah dan merasakan
penderitaan rakyat di pedesaan. Dari sini ia mendapat inspirasi sebagai pejuang
kemerdekaan. Dalam tugasnya ia sering melihat perlakuan kejam pihak penjajah
terhadap penduduk pedesaan. Hal inilah yang memotivasi dirinya dan kawan-kawan
untuk memperjuangkan nasib bangsanya, walaupun memerlukan waktu yang panjang untuk
mewujudkannya.
Setelah
bertugas di berbagai pelosok daerah, Radjiman kemudian mengajukan permohonan
untuk berhenti dari pegawai pemerintah pada 1905. Setelah itu, ia kemudian
mengabdikan diri dan ilmunya di Keraton Surakarta sebagai dokter keraton. Berkat
pengabdian dan jasanya yang besar dalam pelayanan kesehatan di Keraton
Surakarta, Pakubuwono X kemudian memberikan suatu gelar kehormatan “Kanjeng
Raden Tumenggung” (KRT) dengan nama Wedyodiningrat.
D.
Aktivis
Radjiman pernah dipercaya untuk menjadi Ketua Budi Utomo ( 1914 – 1915)
dan sejak berdirinya organisasi perjuangan tersebut dipercaya sebagai
sesepuhnya di samping sebagai anggota Volksraad mewakili Budi Utomo. Oleh karena
itu, telah banyak yang disumbangkan untuk perjuangan, dan dia telah ikut mewarnai
Budi Utomo sebagai organisasi perjuangan yang berkepribadian Indonesia. Dia
telah ikut bergelimang dalam suka dukanya pergerakan Budi Utomo sejak awal
sampai terakhir. Dirinya telah bersatu padu dengan
organisasi perjuangan ini, oleh karena itu dia terkenal sebagai tokoh tua Budi
Utomo. Disamping tua dalam pengalaman organisasi juga tua dalam pendiriannya.
Rajiman termasuk salah satu tokoh Budi Utomo yang dengan gigih mempertahankan
prinsip pt:rjuangan Audi Utomo yang bersifat kebudayaan.
E.
BPUPKI dan Kemerdekaan
Berkat pendiriannya yang tegas itulah kemudian dokter Rajiman
diberi kepercayaan untuk memegang suatu jabatan yang terhormat sekali di depan
nusa dan bangsanya, Ketua Badan Persiapan Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
Bangsa Indonesia menghadapi pertanyaan besar dan mendasar pada saat itu: disusun
berdasarkan filsafat apakah Negara Kesatuan
Republik Indonesia itu? Pertanyaan ini memerlukan jawaban yang tepat karena menyangkut
kehidupan bangsa Indonesia kelak di kemudian hari.
Pertanyaan ini adalah pertanyaan falsafi, oleh karena itu hanya pemikir-pemikir
besar yang ditantangnya.
Maka dari itu, berkumpullah para pemikir terkemuka bangsa Indonesia
pada saat itu dalam BPUPKI. Dari BPUPKI
inilah lahir konsep dasar negara dan konsep U ndang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia yang kemudian disahkan oleh PPKI, satu hari setelah Proklamasi
Kemerdekaan. Rajiman adalah seorang pemimpin
dari para pemikir terkemuka tersebut dan bahkan, berkat kepemimpinannyalah
BPUPKI dapat bersidang dengan lancar, singkat, dan
sukses.
Walaupun
sidang-sidang BPUPKI tetah dinyatakan setesai, tidak berarti tugas Rajiman setesai.
Rajiman sebagai ketua masih harus mempertanggungjawabkan tugas dan kewajiban
nya kepada Pemerintah Jepang. Bersamaan dengan itu, pada tanggat 7 Agustus 1945,
Nanpee Gun (Pemerintahan Tentara Jepang untuk Seluruh Daerah Selatan)
mengumumkan bahwa pada pertengahan bulan Agustus 1945 akan dibentuk Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang akan memeriksa hasil-hasil kerja BPUPKI.
Untuk mempersiapkan pembentukan panitia
tersebut, pada tanggal 8 Agustus 1945, Ir. Soekarno,
Drs. Moh. Hatta, dan Dokter Rajiman diberangkatkan
ke Saigon atas panggilan Jenderal 66 Besar Terauchi, Saiko Sisikan untuk Daerah
Selatan. Pada tanggal 9 Agustus 1945, Jenderal Terauchi menetapkan:
(1)
Soekarno diangkat sebagai Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(Dekuritzu Zyunbi Linkai), Moh. Hatta sebagai wakil
ketua, dan Rajiman Wedyodiningrat sebagai anggota;
(2) PPKI
boleh mulai bekerja pada tanggal 9 Agustus 1945;
(3) Cepat atau tidaknya pekerjaan Panitia diserahkan seluruhnya kepada
Panitia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar